Siapakah “Automation Engineer (AE)”? Secara sederhana berarti engineer yang mengurusi bidang otomasi suatu perusahaan. Kalau melihat kompetensi yang dibutuhkan oleh AE, maka seorang AE haruslah menguasai bidang kontrol, manufaktur, IT, sampai sedikit manjemen. Bagaimana dengan realita profesi AE di Indonesia?
Beberapa waktu lalu saya sempat berdiskusi dengan teman saya, inisialnya B
, yang menjadi AE di sebuah perusahaan system integrator di Jakarta. Karena dengan semangat ia membagikan pengalamannya dalam bekerja, maka tulisan ini ini muncul. Menurut dia, tugas AE adalah melakukan :
- Survey awal – mengamati, berdiskusi dengan client dan mendokumentasikan kebutuhan sistem
- Membuat program PLC (dan SCADA jika perlu) untuk kebutuhan sistem
- Instalasi hardware & wiring PLC (dibantu teknisi)
- Membuat dokumentasi untuk perusahaan (kebutuhan maintenance) yang berisi :
- Petunjuk operasional suatu sistem, semacam user guide untuk operator yang akan menjalankan mesin. Ada kalanya dibuat juga dalam bahasa Inggris
- PLC layout. Gambaran posisi modul – modul PLC, biasanya dibuat dengan AutoCAD.
- Input/Output module layout. Gambaran posisi input – output beserta alamat dalam modul input – output PLC.
- Input/Output List. Berisi nomor pin, warna kabel, daftar alamat I/O, dan I/O device atau kegunaan dari alamat tersebut. Di sini juga didokumentasikan pin – pin untuk power supply DC.
- Program PLC keseluruhan. Biasanya bisa langsung menggunakan fitur print dari program PLC
Dari situ saya melihat adanya kebutuhan tambahan di dunia akademis untuk melengkapi mahasiswa bukan hanya dengan pemahaman programming maupun hardware saja, tapi juga kemampuan untuk :
- Memiliki kreativitas dalam memahami (atau memenuhi) kebutuhan sistem pelanggan.
- Membuat perencanaan tertulis (mungkin juga termasu penawaran sistem untuk perusahaan)
- Membuat dokumentasi sistem yang baik meliputi hal – hal yang sudah saya sebutkan di atas.
Pengalaman lain dari salah satu alumni kampus kami di Jakarta ialah bahwa selain hal – hal teknis, ia dituntut untuk bisa “menjual” produk dan sistem yang ia miliki. Hal ini tentu memaksa ia untuk memiliki kemampuan komunikasi yang baik, membuat proposal penawaran yang tepat, membuat presentasi dan mempresentasikan gagasan kepada client dengan menarik, dan beberapa kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang marketer.
Jadi, Anda sudah siap?
Tanpa bermaksud mengecilkan semangat Anda yang terus ingin belajar, sedikit “keluhan” dari saya (dan teman – teman saya) terhadap profesi ini ialah “salary” yang untuk ukuran kesulitan keilmuan (karena harus multi disiplin : electrical, electronics, PLC programming, sampai SCADA programming) yang tinggi, masih relatif rendah di Indonesia.
Namun demikian, dengan rasa cinta dan minat pada bidang otomasi, semoga hal tersebut tidak menghambat kita untuk terus berkarya. Semoga ke depan makin banyak para AE handal yang lahir dan memperoleh tempat yang layak juga di Indonesia!

Kalau Di Industri biasanya Automation Engineer (AE) masuk ke Departement Enginering bagian Electrical Enginering yang mengurusi tentang otomatisasi mesin produksi.
Regards:
http://program-plc.blogspot.com/
Saya tunggu perbaikannya, hehehe… Btw, saya sependapat dengan semua yang Mas Handy tulis di atas, termasuk masalah salary yang kurang proporsional. Makanya, praktisi yang ikut perusahaan lokal seringkali ‘cabut’ setelah merasa ilmunya cukup n buka usaha sendiri atau lompat ke perusahaan lain yang mau membayar lebih tinggi.
Salam.
Benar sekali…mas masalah salary
tetapi juga kita ketemu dengan personel yang tidak seperti itu
Seorang programmer ataupun AE harus selalu siap dengan program baru, produk baru. Bila pemakaian merk produk bervariasi maka harus memiliki engineer ekstra dalam menangani AE ini
Kami juga memberi informasi automasi sederhana
di http://www.x-one-automation.blogspot.com
semoga bermanfaat bagi pembaca lain
@cartiman : Betul Mas. Mungkin posting saya di atas lebih tepat untuk AE yang bertugas sebagai system integrator yang bertugas untuk “memasang” sistem otomatis di industri. Kalau AE di pabrik memang lebih ke arah maintenance. Trims koreksinya.
@chandramde : Barusan saya perbaiki mas Chandra
. Saya juga banyak melihat fenomena seperti yang mas sampaikan, meski tidak semua juga. Semoga suatu hari ada perubahan di bidang ini ya.. Trims
@ikwan : Yup, memang tidak semua mas. Betul, AE harus adaptable, harus siap adaptasi (dan terus belajar) dengan produk – produk baru. Trims info dan blognya..
Kalau menurut saya punya kemampuan mengoperasikan PLC dapat mendatangkan uang (secara financial) dan yang jelas dapat menambah. Saya punya ilmu mengoperasikan PLC sangat bermanfaat ilmunya, terutama buat mahasiswa saya yang ada di Gajah Tunggal, STT Yuppentek, dan ISTA. semoga sukses.
Saya membuka KUrsus PLC omron dan mikrokontroller.
wah, kok sama ya..
keluhannya di salary juga, hahahaha..
hmm, kayanya musti ada pekumpulan AE nih..
buat standardisasi salary..
hehehehe..
@ cdqhk : iya mas, di Indo kayaknya belum ada perkumpulan profesi yang punya nilai tawar kuat. Sehingga semua ngikut permintaan konsumen / pasar..
wah, bener mas2 di indonesia tugas AE sangat banyak dan ilmu yang harus di kusai jg komplek dari instalasi, programming PLC, Scada , database, IT, dll… tetapi di indonesia profesi AE kurang di hargai di perusahaan2..yaitu salary y tidak sesuai dengan pekerjaan dan tanggung jawab….untuk itu sekarang banyak engineer pada keluar perusahaan untuk kerja freelance..untuk itu gmn nih klo di bikin perkumpulan freelance..utuk pengerjaan proyek2……
Kalo ada yang mau freelance untuk commissioning Micrologix 1500 (Komunikasi ke Stardom Yokogawa), untuk 22-31 Agustus 2009 di daerah surabaya. Silahkan kontak 0817445444
Boleh juga nich, bisa sharing sesama AE
SALAM KENAL TEMAN-TEMAN. AKU DIDI DI JAKARTA SAAT INI KANTOR KU MEMBUTUHKAN SEORANG AUTOMATION ENGENIEER.BAGI YANG BERMINAT HARAP HUBUNGI SAYA DI 021-98808607 ATAU BISA LANGSUNG KIRIMKAN CV KE ALAMAT EMAIL AKU DI :didi.bbm@gmail.com